Pkl 20.35 Jumat malam, di kamar berdinding biru, Madu merebahkan tubuhnya yg belum terasa letih di atas tempat tidurnya yg tidak rapi, diraihnya satu buku kecil dari tumpukan majalah baru yg belum sempat terbaca semuanya, mulai dibacanya buku itu, satu per satu cerita sudah dilewatinya dg baik. Terkadang komentar2 kecil dicoretkannya di ending cerita, sbg penanda ungkapan perasaannya thd cerita2 ‘melly’.
‘hhh….’ Desahnya pelan, diliriknya jam dinding di ujung kamar, pkl 20.55.Tiba-tiba Madu merasakan satu perasaan yg sudah sekitar seminggu ini tidak menghampirinya. Diraihnya sebuah buku kecil dan sebuah pena yg terserak di atas karpet abu-abu bersama dg barang2 lain dari tasnya yg tertumpah tidak karuan.
Jari2nya yg tidak lentik mulai menari2kan pena hitamnya,…“aku tersenyum, aku belum memberikan ucapan terimakasihku padanya. Pada dia, yg dg cerdiknya memberikan buku ini padaku. Dan aku selalu senang mengingat ‘bagaimana’ aku menemukannya” “ dan malam ini, ketika setengah dari isi buku sdh menguasai pikiranku, menghadirkan imajinasi yg semakin tidak terbatas, mendorongku utk lbh bergairah dlm berkhayal dan bermimpi, aku merasakan darahku ‘menghangat’, alam pikiranku bergerak utk membentuk satu bayangan dirinya, satu hal yg kutahan beberapa hari terakhir ini.
Dan malam ini…aku kembali tersenyum…he he he…aku tidak bisa menemukan kata yg tepat dan lbh manis dan sopan …bahwa aku sudah merindukannya kembali” Madu kembali menutup buku kecilnya, meletakkan pena, dan mulai mengembangkan mimpinya. Tangannya meraih selimut utk menutup tubuhnya yg mulai kedinginan krn hawa dingin dr jendela yg terbuka, sambil berpikir…’ya Tuhan..mudah-mudahan tidak ada kucing atau tokek yg masuk melalui jendela itu malam ini…dan beri aku mimpi paling manis ya…please deh Tuhan…terimakasih’
Satu jam kemudian matanya terbuka, Madu terbangun, dan otomatis terbayang sepintas wajah Candu, pria yg sdh memenuhi ruang-ruang hati dan pikirannya. Pria yg sudah membuat emosinya bergerak, pria yg saat ini (mungkin tanpa dia sadari) sudah memotivasi dan memberikan dorongan yg kuat bagi Madu utk mulai menekuni kebiasannya mencoret2, mencoret yg lebih bisa dibaca, lebih tertata, krn sebenernya Madu itu lebih suka menggambar di udara, di awang-awang..menggambar tanpa alat…(itu yg sering didengungkan Ibu Madu kalau Ibunya marah melihat Madu sering ‘lelet’ dan sering termenung seorang diri.
Madu berusaha menutup kelopak matanya lagi, ‘heran…kok wajah dia kayaknya lekat dan nempel di pelupuk mataku ya????’ pikirnya malam itu.‘sumpah sih…aku seneng sekali dg ide dia beri buku ini, kupikir dia memang cerdik dan cerdas kok,’ pikirnya lagi. Lalu, Madu kembali mencoba menutup kelopak matanya dg hiasan wajah seorang pria di sana…Madu berharap…wajah yg menghantui tidurnya bisa diajaknya bermain-main di alam mimpinya hingga esok pagi menjelang.
Belum sempat say thanku…menunggu saat yg tepat saja…krn pemberiannya yg begitu bagus…ya krn Madu paling doyan dg benda yg bernama ‘buku’…terlebih lagi kalo bukunya adalah buku mantera…bisa bikin magic…(kayak harry potter). Yang bikin happy lagi…pemberiannya ini di saat yg ‘krisis’…(gak bisa jelasin krisis ‘apa’ yg jelas bukan krisis moneter, bukan krisis percaya diri, ataupun krisis daya jual beli spt yg saat ini sdg teralami oleh hampir pada seluruh aspek usaha di Negara ini..cieeee).
mmmm….lama sekali menunggumu….