baiklah, sikapmu dan pilihan kata-kata yg kau berikan kepadaku beberapa hari terakhir telah berhasil melahirkan pemikiran lama yg pernah kukandung selama ini. sesungguhnya, rencana pertemuan kali ini, salah satunya adalah membahas tentang hal tersebut. tapi apa daya jika sesuatu yg terjadi dgn tiba-tiba dan tidak bisa dihindari
selama ini aku selalu menganggap dirimu, sosokmu, jiwamu, kepribadianmu, dan semua yg ada pada dirimu adalah baik. dan aku selalu ingin menganggapnya demikian selama waktu tetap bergulir.
selamat. karena kamu mampu mengarahkan pemikiranku sesperti yang kamu mau.
semalaman berpikir keras utk membuat satu kalimat dan memikirkan satu langkah yg mungkin bisa dilakukan. tentang dirimu dan diriku.
satu hal yg ingin kusampaikan, terinspirasi oleh sikap dan semua rantai kalimat pilihanmu, yg membuat diriku tidak nyaman seperti sebelum2nya. mungkin aku yg memulai adanya cukilan-cukilan sakit di hati dari kalimat2 yg kita lontarkan satu sama lainnya.
dan jika hanya sakit yg bisa dirasakan, sakit yg berbeda dari yang sudah dialami. aku berpikir bahwa, sebaiknya disudahi saja sebelum dirimu semakin merajalela melancarkan kutipan-kutipan yang membuatku mati kata dan sebelum panah bisamu mengalirkan racun dalam tubuhku dan membuat aku sakit.
jika kamu sependapat dengan diriku, jangan kamu memaksa aku untuk merubah pandanganku terhadap dirirmu. tetaplah menjadi sosok yg baik untukku dan untuk semuanya yg menyayangi dan engkau sayangi. jangan torehkan luka yg membekas di hatiku. biarkan aku tetap memiliki satu ruang kosong untuk kamu tempati. meski di sisi lain kamu ingin menutup dan mengakhiri cerita yang sangat membingungkan ini.
berikan aku sikapmu yang sederhana. sampaikan kalimatmu untuk telingaku dengan sederhana, seperti aku memandang segala sesuatu dgn bentuk yg sederhana. jangan berikan aku pancingan2 yg akan membuatku berpikir yg tidak diinginkan. hanya akan membentuk luka.
apakah cerita ini akan diselesaikan?
jika iya, aku lebih memilih masing-masing pemerannya membawa sebuah kenangan manis yg tidak terlupakan. aku ingin pembacanya memiliki satu kenangan manis ketika membaca cerita atau menonton filmnya.
aku tidak ingin ada luka yg dibuat diakhir cerita. aku tidak ingin menimbulkan sakit, karena sudah ada sakit di awal cerita. jangan ada sakit yg lain. menjadi komplikasi. dan susah obatnya. paling-paling solusinya secara umum adalah menunggu mati.
pokoknya, aku mau ceritanya tidak ada yg terluka. walau disini, pemeran utama wanitanya sudah terkena sabetan senjata dari pemeran utama laki-lakinya. pemeran wanitanya sempat terkejut, kesakitan dan sedih tentunya. tapi karena dia adalah perempuan yg cukup bijaksana dan berpikrian dewasa serta cerdas dan bersahaja, maka dia menganggap itu bukanlah satu kesengajaan. walau di dasar hatinya yg paling dalam, sikap waspada dan kehati-hatian. karena perempuan itu sudah cukup menyimpan banyak luka.