Malam yang menarik, setelah membaca sebuah majalah perempuan dengan artikel tentang Virginity, aku jadi lebih terbuka dalam memahami permasalah perempuan lain di permukaan bumi ini dalam menyikapi arti sebuah keperawanan.Yah…masih terdengar ‘tabu’ untuk menuliskannya, tapi tema ini yang mengganggu pikiranku yang ingin kubicarakan dengan teman-teman yang lain.
Dalam dunia (yang katanya moderen) ini, berbagai sikap telah ditunjukkan untuk menghadapi fenomena tentang keperawanan….mataku beberapa kali terbeliak dan senyumku mengembang cukup lebar memenuhi kuota mulutku yang tergolong sedang cenderung kecil.
Ada 3 opini tentang keperawanan yang konon memiliki arti sebagai sesuatu yang diciptakan untuk suami atau harus diserahkan untuk suami kelak. Ditinjau dari sudut pengertian bahasa latinnya di abad ke -13 yaitu virgin dari vir = pria/suami dan genere = diciptakan. Para pria boleh berbangga dengan pengertian tersebut.
Opini pertama tentang perasaan seorang perempuan (Jawa) yang merasa tertekan dengan segala aturan yang mengikat hidupnya, yang menciptakan dirinya sebagai perempuan pendiam dan penurut hingga jiwa memberontak mulai dia rasakan sejak di bangku SMA. Tidak boleh manjalin kasih (pacaran), merasa kurang dalam pergaulan dan merasa ketinggalan jaman. Yang pada akhirnya memutuskan melepas keperawanan pada kekasihnya dan merasa lebih bebas, lebih pecaya diri, lebih riang dan lebih bisa mengenali dirinya sendiri. Terlepas dari sikap free seks yang semakin banyak dilakoni oleh remaja dewasa ini.
Opini kedua dari seorang perempuan yang dibesarkan bukan dari keluarga konvensional, sehingga memperoleh pengetahuan seks dan seluk beluknya dari orangtua yang menydari tidak bisa menghentikan pertumbuhan seorang anak menjadi remaja dan menuju dewasa. Pemahamannya tentang seks sangat baik yang membawanya pada prinsip tidak melakukan hubungan seks interocouse meski yang bersangkutan adalah sexually active, dan masih perawan hingga opini dibuat. Banyak jalan menuju roma, begitu pula banyak cara menuju kepuasan seksual tanpa harus melakukan skes intercouse.
Opini ketiga muncul dari seorang pria yang kerap gonta ganti pasangan dengan gaya hidup layaknya manusia dewasa jaman sekarang. Perempuan, cinta dan seks di luar nikah. Toh, pria ini masih mengharap (dengan sangat ) mendapatkan seorang isteri yang perawan atau paling tidak memiliki pembawaan seorang perawan…
Hhhh…cukup heran sekaligus cukup terbuka mata dan pikiran saya setelah mencermati pandangan-pandangan tersbut. Dimana sisi konvensional saya masih melekat kuat, tetapi di sisi lain pemikiran moderenpun telah menghampiri dan membuat saya cukup bertoleransi dengan kondisi dan situasi di jaman ini. Saya setuju dengan pemikiran bahwa keperawanan diberikan kepada suami melalui berbagai ritual dan upacara yang biasa disebut dengan pernikahan. Sebagai orang yang dibesarkan dan hidup di lingkungan dengan adat istiadat dan budaya yang masih berlaku, saya akan menghargai prinsip seks after married.Disekitar saya, sudah cukup banyak remaja dewasa yang melakukan hubungan seks sebelum menikah, melepas keperawanan sejak usia dini ( satuan belasan tahun), dan saya menemukan jurnal dan artikel yang mengungkap resiko-resiko yang menyerang organ-organ kewanitaan bagi pelaku seks usia dini.
Bagi saya, keputusan mempertahankan keperawanan hingga menikah masih merupakan keputusan yang terbaik. (majalah yang menginspirasi Indonesia’s Leading Fashion & Beauty Magazine FEMALE edisi Agustus 2007)
Numpang nambah dikit ya dik,
Sejelek – jelek pria, meski dia melakukan seks bebas sekalipun sangat mendambakan istri perawan. Meskipun pria tersebut pernah melakukan hubungan suami – istri dengan seorang gadis yang nota bene masih perawan, dia tetap mendamba istri yang perawan, bukan gadis yang perawan tadi.
Jadi kalo dipikir pria tadi bukan meng-inginkan keperawanannya tapi waktu yang tepat dan sah-nya melakukan hubungan suami – istri menurut saya adalah wujud sang istri bisa menjaga rumah tangga nantinya atau tidak. Bukan masalah berdarah-darahnya.
Berbahagialah para wanita2 yang menjaga kehormatannya, mungkin itu melebihi keindahan (perawan).