hatiku jengkel, dadaku panas dan akhirnya aku memilih diam.aku berpikir hal apa yang bisa kulakukan untuk meredam gejolak kejengkelan ini. kurapikan meja belajar jaman kuliahku dulu, mencoba mencari media untuk mencoret-coretkan kekesalanku secara tradisional.
Kubuka tumpukan buku-buku jam sekolah hingga kuliah, penuh debu dan ngengat.Terlihat sebuah agenda jelek beraroma ‘apek’ berdiri miring diantara tumpukan diktat yang usang. Kuambil dan kuperhatikan sampulnya yang masih utuh, kertas-kertasnya yang masih baik dan cukup banyak untuk menyimpan umpatan serta keluh kesahku.Segera kucari pena, kutarik sebuah kursi dan mulai kutumpahkan perasaanku yang mulai mencair pada buku dan pena yang kutemukan.
media-media penulisan di luar diary ini cukup membuat kepalaku pusing tujuh keliling. seperti kriminil, semua alat curhatku di sabotase, di sadap dan diinterogasi. mulai dari pc di kamar pribadi, kunjungan ke warung internet, hingga media paling pribadi yang kumiliki (baca: komunikator), semua tidak lepas dari pantauan dan serentetan pertanyaan yang membuat aku terpaksa menyusun alasan kosong.
aku mencoba kembali melemaskan jari0jariku mengisi diary jelek ini, seperti masa-masa esempe. tak lupa dengan sebuah catatan ketidakamanan. aku takut, aku enggan, aku khawatir ada orang lain yang membacanya sebelum aku siap untuk mempublish di duniaku (dimana tak seorangpun yang akan menaruh curiga dan bertanya-tanya mengenai hubungan dan latar belakang tulisan-tulisan jelekku).
bahkan aku sering berpikir, tidak ada seorangpun di duniaku ini yang cukup memahami bahwa privacy itu penting adanya. benda pribadi ’secret’ adanya. dan bahwa seorang manusia senantiasa membutuhkan beberapa waktu dan kesendiriannya. bahwa seorang dewasa masihd an selalu menginginkan dunianya sendiri diantara dunia bersama.
di sisi lain, hari-hari duniaku semakin sempit kurasakan. tidak terdapat ruang gerak dan ruang kebebasan berkespresi untuk aku berbuat dan berpikir sesuai keinginan dan gayaku, berdasar apapun yang terlintas dipikiranku. dimana orang dewasa lain tidak perlu bertanya mengenai kepentinganku ,elakukan ini dan melakukan itu. bertindak beginid an bertindak begitu.
melakukan hal-hal yang kusukai sesuai bisikan dihatiku merupakan satu hal yang paling kugemari (dan kalian gemari), walau kita tahu hal itu cukup dapat mengganggu kenyamanan berpikir orang selain diri kita.
beri aku waktu, beri aku ruang untuk aku bergerak dan menikmati pola nafasku, melanjutkan mimpi-mimpi yang tidak bertuan di pikiran dan benakku.
menangis, bercucuran air mata, tersedu dan menggugu…hiks hiks hiks..mungkin bisa membuatku nyaman dan sedikit lega untuk saat ini
aku hanya ingin memeluk cinta di duniaku. merengkuh mimpi dalam imajinasiku. dan menggapai kenikmatan dengan tulisanku. tentang kebohongan perasaan dan rayuan gombal buah pikiranku. membuat prakarya cinta, menuangkan hasrat berbentuk tulisan jelek dan kata yang tidak berarti menjadi kalimat kosong yang panjang dan tidak pernah berhenti.
aku dengan imajinasi dan tikungan liar yang terpendam. membuai aku dalam angan-angan yang dikekang dalam rantai kosong, terikat erat dalam kaidah norma dan susila.
jika kusebut tidak ada tempat untuk tulisanku, maka hanya ada hati dan kepala sebagai penyimpan seribu cerita yang tersimpan. berkelana mencari nafas damai untuk sekedar melangkah dan melenggang, bertutur tentang kisah mimpi yang dibatasi dan diwariskan.
aku masih berjalan mencari tempatku. untuk dapat merasa aman meletakkan dan menyimpan benih-benih khayalanku hingga lahir sebuah cerita panjang untuk kunikmati kembali bila gelap telah mendatangi.
beri aku sebuah sandaran, karena aku masih lelah
beri aku jalan, karena aku ingin melangkah
beri aku ruang, karena aku butuh untuk sendiri bermain, mencari, menanti, merangkai cerita dalam hati
beri aku pena untuk kugerakkan, beri aku kertas untuk kutulis
beri aku sentuhan untuk menghidupkan hawa-hawa gairahku dalam impian yang kutahan
beri aku sedikit saja ruang kebebasan dari seluruh kehidupan yang sudah kau ambil secara perlahan